Rabu, 03 Januari 2024

SEJARAH JALUR REMPAH NUSANTARA

 JALUR REMPAH NUSANTARA



Nenek Moyang Bangsa Indonesia sejak 4500th lalu meninggalkan warisan tak ternilai yaitu jalur rempah. Nusantara sendiri menjadi titik nol dari semua tata niaga rempah dunia dari pala, cengkih dan cendana di bagian timur Nusantara hingga lada, merica, kemenyan dan kapur barus dar belahan barat Nusantara. Selain itu, karena rempah-rempah Nusantara, dunia mengalami kemajuan teknologi pelayaran dan maritim yang melahirkan era penjelajahan samudera. Lebih daripada itu, di setiap simpul jalur 4 terjadi perjumpaan  lintas suku bangsa yang menghasilkan pertukaran budaya agama, politik, ekonomi dan kesenian. Dengan demikian jalur rempah ikut mengubah peradaban dunia. 

Meskipun demikian warisan berharga tersebut terancam hilang dari memori bangsa dunia yang lebih  mengenal jalur sutra yang dirintis oleh Tiongkok daripada jalur rempah yang dirintis bangsa sendiri. Padahal rempah-rempah Nusantara merupakan komoditas yang diperdagangkan di jalur Sutra. Jalur perdagangan rempah sendiri dibagi menjadi 2 jalur yaitu jalur rempah dan jalur sutra. Jalur Rempah adalah jaringan Niagara rempah-rempah yang menghubungkan antara belahan Barat dan dan belahan Timur dunia . Dimulai dari  wilayah Timur Nusantara melintasi ujung Barat Suamtera – India – Sri Lanka – Mesir – Afrika Timur – Afrika Selatan – Madagaskar – Daratan Timur Tengah / Asia Barat - Mediterania - Eropa. 

Perajalanan melwati jalur ini menmpuh jarak lebih dari 15.000 km dan sebagaimana namanya rempah utama yang diperdagangkan meliputi lada, merica,, kayu manis, pala dan cengkih. Jalur empah merupakan jalur niaga tertua dalam peradaban  manusia warisan nenek moyang bangsa Indonesia sejak 4500th yang lalu. Jalur ini dibangun   jauh sebelum dinasti HAN Tiongkok merintis jalur sutra di abad ke tiga sebelum masehi melalui daratan di Asia Tengah hinggga Eropa. Pada masa pra akasara wilayah yang dilintasi jalur rempah membentang sampai Sri Lanka, India Afrika dan Madagaskar. 

Nenek moyang kita juga membawa rempah ke Asia Tenggara termasuk ke Vietnam dan Kamboja   yang terbukti dari penemuan benda-benda logam dari Dongson Vietnam di NTT, Maluku, dan Papua. Nenek moyang bangsa Indonesia itu adalah rasa australomelanesoid yang datang ke Nusantara tahun 2500 SM atau 4500th lalu dari bagaian Tenggara setelah sebelumnya bermigrasi dari Laut Tengah dan menetap di India. Migrasi ke tempat yang jauh melintasi lautan tidak terlepas dari revolusi baru dalam sejarah peradaban yaitu penemuan perahu layar dan kemampuan memahami arah angin dan ilmu perbintangan (astronomi).                                                            Bukti Keberadaan Jalur Rempah Praaksara 

Pertama, bukti arkeologis. Kemampuan berlayar nenek moyang bangsa Indonesia sejak 4500-5000 th yang lalu ditunjukkan melalui gambar perahu dengan senjata terselip di pinggang di situs Liang Kacamata. 


Di wilayah Kalimantan Selatan terdapat pula lukisan perahu serta lukisan penari dan gendang logam di Batu Situs here sorot entapa di Maluku. Di situs tersbut ditemukan pula Dongson dari Vietnam Utara dan Tiongkok Barat Daya kurang lebih 2500th lalu.


 

Di Mesir terdapat lukisan yang menggambarkan ekspedisi kapal besar yang diperkasai oleh Ratu Headsetus 1503 - 1482 sebelum masehi. Di bawah lukisannya tertera huruf Hiro gilf yang menjelaskan kapal membawa pulang jenis tanaman dan bahan wewangian untuk pemujaan ynag diterka di situs tua Mesopotamia (Surya) ditemukan Jambangan berisi Cengkeh di gudang dapur rumah sederhana th 1721 SM. Di dalam lubang hidung Ramses 2 di tahun 1224 SM ditemukan lada hitam sebagai bahan pengawetan mumi. Rempah - rempah tersebut diyakni dari para pelaut-pelaut Nusantara. Sementara itu, manik-manik kaca, kalung kalian dan gerabah dari Alika Mendut India Selatan banyak ditemukan di situs Karang Agung Sumatera Selatan, di Situs Budi dan Petanggeng JAwa Barat, serta di Situ 9 Bali.

Bukti Tertulis

Catatan penulis Romawi Gaius Plinius Secundus (Pliny the Elder) pada abad 23/24  79 M dalam catatannya menyebutkan tentang para pelaut pemberani dari Timur yang datang membawa kayu manis menggunakan perahu sederhana yang sedemikian rupa yang dikatakan bahwa perahu digerakkan oleh semangat dan keberanian. 

Membanjirnya rempah Nusantara di wilayah kekaisaran Romawi diperjelas melalui Peta Guide to Geography di abad 1 M karya astronom Alexandria Mesir bernama Claudius Ptolomaeus. Di dalam peta   tersebut tertulis ebuah nama kota bernama Barus (sekarang Tapanuli Tengah) yang merupakan kota pelabuhan kuno sumber kapur barus sebagai komoditas yang diburu pelaut Yunani maupun Romawi, Mesir, Arab, Tiongkok dan Hindustan pada masa itu. Selain itu    terdapat pula bukti dalam kitab Vamsa yang ditulis Kalodaso sekitar 400M menyebutkan kapal besar sering lalu lalang dari Nusantara untuk mendapatkan rempah-rempah. Berita dari Dinasti HAM di abad ke-3 M menyebutkan kewajiban bagi para pejabat tinggi yang hendak menghadap Kaisar untuk mengulum cengkih untuk menghilangkan bau mulut. Sumber lain menyebutkan cengkih dari Maluku yang digambarkan seperti paku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia

  Agama Hindu dan Budha berasal dari India. Kedua agama tersebut masuk dan dianut oleh penduduk di berbgai wilayah nusantara pada waktu yang...