Kita sebagai manusia dianugerahkan akal untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan kehidupan, tentunya dengan segala tools modern, namun dengan segala tantangan yang lebih kompleks. Persaingan yang semakin rumit dan kebutuhan yang semakin bertambah. Di luar itu semua, pernah gak kita berfikir bagaimana manusia di masa lalu bertahan hidup dan dan memenuhi segala kebutuhannya? Kalau kita mau cari tau, maka secara otomatis kita juga akan belajar bagaimana perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Dari setiap tahapan perkembangannya, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana manusia merespon tantangan alam sekaligus manfaatkan alam bagi keberlangsungan hidupnya.
Jadi, mari belajar sejarah dan belajar dari sejarah. Berdasarkan hasil penelitian, diperkirakan, manusia praaksara pada awalnya mengambangkan pola kehidupan Berburu dan Meramu, kemudian berlanjut dengan pola Bercocok Tanam, dan di akhir masa praaksara manusia telah mahir dalam teknik pengolahan logam di masa perundagian. Masa ini isebut juga masa mengumpulkan makanan yang tersedia dari alam (Food Gathering). Terbagi menjadi 2 tahapan:
Pertama, Masa Berburu dan Meramu Tingkat Awal. Pada masa ini manusia purba mempunyai ketergantungan yang besar terhadap apa yang disediakan alam. Pola huni mereka masih terbuka dan dekat dengan sumber air. Manusia purba yang tinggal di hutan biasanya berburu binatang, sedangkan yang hidup di sekitar pantai mereka menangkap ikan dan kerang.
Ciri kehidupan:
a. Pemenuhan kebutuhan hidup sangat tergantung pada alam
b. Peralatan terbuat dari batu kasar
c. Belum mengenal bercocok tanam
d. Hidup secara nomaden / berpindah-pindah
Kenapa nomaden? Pertama, pergantian musim. Musim kemarau hewan sebagai sumber makanan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik. Berpindahnya hewan mendorong manusia ikut berpindah-pindah. Kedua, Umbi-umbian dan biantang mulai berkurang (sumber makanan). Pada masa ini, kehidupan manusia sedikit lebih maju namun masih tergantung pada alam. Masa ini berlangsung pada zaman Mesolitikum. Masyarakat memenuhi kehidupan sebagian dengan bercocok tanam sederhana (berkebun) dan berburu. Berkebun membuat mereka harus menunggui hasil kebunnya, hal ini mendorong mereka untuk menjalankan pola hidup menetap sementara atau semisedenter. Namun karena mereka masih harus memenuhi sebagian kebutuhan makanan mereka dari berburu, maka jika bahan makanan di alam sekitar habis, mereka akan berpindah tempat atau nomaden.
Masa berburu dan meramu tingkat lanjut merupakan masa peralihan dari food gathering menuju food producing, dari sisi pola hidp mereka bertempat tinggal di gua-gua atau Abris Sous Roche, mereka memilih gua yang letaknya di lereng-lereng bukit untuk melindungi dari iklim dan binatang buas. Pada masa ini diduga telah muncul kepercayaan dengan ditemukannya bukti-bukti tentang pengubuaran yang ditemukan di gua. Dari mayat-mayat yang dikuburkan tersebut, ada yang ditaburi dengan cat merah yang diperkirakan berhubungan dengan upacara penguburan. Selain itu, dinding gua Leang Sulawesi Selatan, ditemukan lukisan cap tangan berlatar belakang cat merah, yang kemungkinan memiliki arti simbol kekuatan pelindung untuk mencegah roh jahat. Kedua, Bercocok Tanam. Kalian tentu pernah mendengar terjadinya kebakaran hutan di musim kemarau bukan? Selain karana faktor alam, juga disinyalir karena adanya kegiatan membuka ladang dengan membakar hutan. Cara ini merupakan cara kuno yang diterapkan manusia purba pada masa bercocok tanam / Slash and Burn (tebang dan bakar). Jadi kalau masih ada yang membakar hutan untuk membuka ladang, maka pemikirannya sama dengan manusia purba dan tidak patut dicontoh. Teman-teman pasti tau kan pentingnya menjaga kelastarian alam?
Pada masa ini terjadi perubahan besar pada masyarakat purba, dalam cara memenuhi kebutuhan hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan (Food Gathering) menjadi memproduksi makanan (Food Producing). Dari berpindah tempat (nomaden) menjadi menetap atau sedenter. Selain bercocok tanam mereka juga beternak hewan, yang dulunya diburu sekarang mereka ternakkan. Masa ini berlangsung sejak jaman neolitikum hingga zaman logam. Pendukung kebudayaan pada zaman ini sudah dari jenis homo sapiens atau makhluk cerdas yang berasal dari rumpun Melayu. PErubahan pola tersebut dipengaruhi oleh perkakas yang mereka miliki saat itu yaitu kapak persegi dan kapak lonjong yang dihasilkan dari mengasah batu atau mengumpang.
Dengan diasah maka perkakas mereka sudah lebih tajam dari sebelumnya dan bisa digunakan untuk menggali tanah untuk berladang. Pola kehidupan berladang dan beternak dikembangkan oleh masayarkat mempengaruhi pola hunian mereka. KArena berladang membutuhkan waktu yang lama untuk dipanen sehingga mendorong pola kehidupan menetap. ditambah lagi dengan beternak, sehingga tidak memungkinkan bukan untuk berpindah-pindah kembali? Pada masa ini, hutan belukar dimanfaatkan untuk dijadikan ladang, dengan menanam tanaman sehingga lamakelamaan tanah di sekitar tidak lagi subur an tidak dapat lagi ditanami. Sehingga mereka harus berpindah mencari tanah lain yang lebih subur.
Sistem bercocok tanam seperti ini sering disebut dengan sistem berladang pindah/berhuma. Masyarakat praaksara pada masa itu telah memiliki tempat tinggal pada suatu tempat tertentu. Kehidupan sosial pada masa initerlihat dengan jelas melalui cara bekerja dan bergotong royong. Ini merupakan salah satu ciri kehidupan masyarakat Indonesia yang harus tetap kita rawat. Di sini juga sudah terlihat peran pemimpin, yang dipilih berdasarkan apa yang diistilahkan dengan primus inter pares, artinya orang yang terhormat karena kecakapan dan pengalaman dalam memimpin. Sedangkan sistem kepercayaan pada masa ini telah mempunya konsep tentang alam dan kehidupan setelah kematian. Mereka percaya roh tidak lenyap pada waktu meninggal.
Penghormatan padfa nenek moyang atau kepala suku yang diagungkan tidak berhenti pada waktu kepala suku telah meninggal. Penghormatan terus berlanjut menjadi sebuah pemujaan. Sistem kepercayaan masyarakat praaksara telah mendorong berkembangnya kepercayaan animisme ( memuja roh nenek moyang) dan dinamisme (benda-benda tertentu diayakini memiliki kekuatan gaib, sehingga sangat dihormati dan dikeramtkan). Ciri lain kehidupan ni telah terdapat pola pembagian kerja dan sudah menguasai ilmu astronomi yang digunakan untuk berpindah tempat dari daratan Yunan ke kepulauan Nusantara, sehingga mereka juga telah mengenal jenis transportasi yakni perahu bercadik yang juga digunakan untuk menetap di wilayah perairan.
Ketiga, Masa perundagian. asal kata “undagi” ----> tukang / seseorang yang memiliki ketrampilan atau ahli dalam melakukan pekerjaan masyakat tertentu. di masa ini, masing-masing orang bekerja sesuai dengan ketrampilannya masing-masing atau spesialisasi kerja sudah sangat maju. zaman ini dimulai sekitar 10.000 tahun lalu. Di bidang pertanian, masyarakat mulai mengembangkan sistem persawahan sehingga tidak lagi bergantung pada tanah humus dan berusaha mengatasi kesuburan tanah melalui kegiatan pengolahan tanah sehingga mata pencaharian utama masyarakat adalah bertani yang dilakukan secara lebih teratur dan maju dengan menggunakan sistem perairan dan sistem terasering dalam membuat sawah-sawah. Ciri-Ciri masyarakat perundagian:
a. Kemampuan mengolah logam khususnya perunggu dan besi, sebagai salah satu pembeda dari masa sebelumnya yaitu terdapat kelompok dengan keahliankhusus. Satu bukti bahawa dalam amsyarkat terdapat pembagian kerja yang baik
b. Mengenal perdagangan antar daerah. Untuk membuat perkakas logam seperti perunggu, timah dan besi harus didatnagkan dari suatu tempat sehingga mendorong terjadinya interaksi perdagangan yang meliputi berbagai daerah.
Sedangkan untuk sistem kepercayaan tidak berbeda dengan masa bercocok tanam. Sedikit yang membedakannya hanyalah upacara lebih mewah dan rumit, benda yang digunakan lebih indah karena terbuat dari perunggu. Masyarakat praakasara telah merilis nilai-nilai budaya asli yang masih terpelihara hingga saat ini dalam bentuk kegiatan berikut.
Pertama, pengetahuan tentang astronomi, pengaturan masyarkat, sistem tata kota (Sistem macapat), kesenian wayang, kesenian gamelan, seni membatik, seni mengolah logam, bercocok tanam, mengal alat tukar dalam sistem perdagangn, dan pengetahuan pelayaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar